Setelah Bapak mertua meninggal pada tahun 2017, diakui atau tidak kehidupan kami berubah drastis, dari yang tadinya level aman, sejak 2017 itu kami harus mengencangkan ikat pinggang...
Namun begitu alhamdulillah dapat bertahan, dan mencapai puncaknya tahun 2020, ketika istri mendapatkan warisan berupa uang hasil penjualan rumah kakek yang di Pondok Pucung...
Tahun 2020 - 2021 merupakan tahun yang indah...
Namun tidak dapat kami lupakan, 2017 - 2019, dimana meskipun kami mengencangkan ikat pinggang, kami juga harus memaksakan diri untuk menanggung beban tambahan, yakni kakak ipar kami hidup serumah dengan kami, yang otomatis "biaya harian" selama 4 tahun Alloh lah yang menanggungnya...
astaghfirulloh
setelah memutuskan untuk meninggalkan kami untuk tinggal di rumah pangandaran, selama tahun 2020 - 2021, akhir 2021, beliau pulang ke rumah kakek di Banjar, dengan kondisi nol.. dan ini sangat memberatkan kami.
Dan ini berlanjut sampai 2023, setelah "kakak" kehabisan amunisi pada akhir tahun 2022, beliau memutuskan untuk tinggal dengan kami di gang Soka, dengan tidak menghasilkan uang satu rupiah pun.
Praktis, kami makin pontang-panting
astaghfirulloh
bahkan iuran BPJS Kesehatan pun, kami pula yang membayar, 650 rebu pada akhir 2022, dan 105 ribu pada awal 2023
ceritanya setelah idul fitri 2023 berangkat ke pangandaran, namun bukan kemandirian, malah tetap saja biaya makan mengandalkan dari Wawa Yayan dan istri saya, setidaknya sampai Maret 2024, kalaupun ada sewa, tidak bisa buat bertahan bulan tersebut.
Namun, alhamdulillah, mulai bulan April tahun 2024, rupanya sudah tidak pernah minta isi token listrik, kemungkinan karena ada pemasukan / sewa.
